Wednesday, February 04, 2009

Industri Manufaktur Merosot 3,4%

INDUSTRI MANUFAKTUR TERIMBAS KRISIS
Industri Manufaktur Merosot 3,4%
 

JAKARTA. Permintaan (demand) masyarakat yang menurun akibat krisis ekonomi membuat industri pengolahan (manufaktur) besar dan sedang menurunkan volume produksinya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa terjadi penurunan produksi sebesar 3,40% pada triwulan IV 2008.
 
Penurunan terbesar terjadi pada industri alat angkut selain kendaraan roda empat dengan penurunan sebesar 14,89%, industri logam dasar turun 13,04% dan industri tekstil minus 10,61%. "Pertumbuhan produksi industri pengolahan sedang dan besar pada 2008 melambat bila dibandingkan dengan pertumbuhan 2007 yang tumbuh sebesar 5,57%. Penurunan produksi kendaraan karena adanya kenaikan harga BBM sehingga orang beralih dari kendaraan pribadi ke umum," kata Deputi Neraca dan analisis statistik Slamet Sutomo di Jakarta, kemarin.
 
Ia mengatakan, angka pertumbuhan produksi didapat dari survei bulanan dan tahunan perusahaan di seleluruh Indonesia. Krisis finansial yang terjadi pada triwulan VI 2008 sangat mempengaruhi kinerja industri pengolahan sedang dan besar. "Jika ekspor kita turun, itu juga indikasi pada penurunan produksi dalam negeri," kata Slamet. Selain dampak krisis ekonomi, penurunan angkla produksi juga karena siklus perlambatan tahunan yang biasanya terjadi di akhir tahun.
 
Penurunan produksi sangat dipengaruhi oleh total permintaan produk. Krisis ekonomi membuat permintaan akan barang konsumsi termasuk juga bahan baku dan barang produksi menjadi menurun, hal itu akan menurunkan nilai ekspor dan menurunkan total produksi perusahaan dalam negeri. Jika industri logam menurun karena permintaan mesin dan bahan baku mesin berkurang, industri tekstil terpukul oleh serangan produk China.
 
Slamet mengatakan, jika dibanding 2007 maka laju pertumbuhan masih positif 2,97% namun pertumbuhan tersebut terus melambat. Namun, selain ada penurunan, beberapa industri malah menunjukkan kenaikan pertumbuhan yaitu industri pengolahan tembakau, industri furnitur dan pengolahan lainnya, industri makanan dan minuman.
 
Perkembangan sektor industri pengolahan sedang dan besar sampai dengan semester I 2008 relatif prospektif. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya pertumbuhan produksi selama periode tersebut dan mencapai puncaknya pada Juli 2008.
 
Namun selanjutnya, akibat terjadi krisis keuangan dunia, berdampak negative terhadap ekonomi Indonesia umumnya dan industri pada khususnya. Pertumbuhan pruduksi industri pengolahan sedang dan besar cenderung menurun sejak memasuki triwulan III sampai akhir 2008.
 
Uji Agung Santosa
 
 
 
 
 [posted for blogger.com]